Rabu, 01 September 2010

Sabar dalam Syukur, Bersyukur Berada di Bulan Latihan Kesabaran, Yaa Ramadhan

Bersabar dalam rasa syukur atau bersyukur dalam kesabaran ? apapun jawabannya kedua entitas tersebut merupakan pokok keimanan. Iman terbagi menjadi dua, separuh dalam sabar dan separuh dalam syukur. (HR. Al-Baihaqi)

Bersyukur atas nikmat Allah mempunyai cakupan yang sangat luas baik yang telah ada pada diri kita maupun yang akan datang kepada diri kita. Didalam khutbah sering kali khotib mengajak kita bersyukur atas nikmat Islam , nikmat iman dan berbagai kenikmatan yang lainnya salah satunya seperti kesehatan.
Bersyukur bisa kita lakukan lewat perbuatan dan perkataan, dan bersyukur lewat perbuatan dibagi menjadi dua yaitu bersyukur terhadap apa yang telah kita miliki untuk digunakan pada diri sendiri dan bersyukur terhadap apa yang telah kita miliki untuk digunakan bagi kebutuhan orang lain.

Bersabar dalam rasa syukur adalah syukur utuk diri sendiri dan hal ini bisa kita manifestasikan dalam syukur panca indera seperti bersyukur karena telah memiliki mata maka kita bersabar dalam melihat yang bukan hak kita, bersyukur karena telah memiliki mulut maka kita bersabar dalam berbicara yang tidak bermanfaat bahkan menimbulkan fitnah, bersyukur karena memiliki telinga berarti kita dituntut untuk bersabar dalam mendengarkan keluhan oranglain dan menahan diri dari mendengar ghibah dan seterusnya. Seperti firman Allah ” Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur “(Al Mu’minuun :78) hal senada terdapat pada surat (Al Mulk :23)
Bersyukur dalam kesabaran adalah wujud terimakasih kita kepada Allah bahwa kita di beri nikmat sabar, yaitu sabar dalam memberikan pertolongan kapada orang lain. “Yang paling pandai bersyukur kepada Allah adalah orang yang paling pandai bersyukur kepada manusia”. (HR. Ath-Thabrani) , karena pada hakekatnya rasa sabar juga pemberian dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang disusupkan lewat hati orang yang di pilihNya.

Selama ini kita mempersepsikan energi sabar dan syukur sebagai energi diam (kepasrahan) padahal tidaklah demikian, didalam satu hadist Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam menerangkan “Dua hal apabila dimiliki oleh seseorang dia dicatat oleh Allah sebagai orang yang bersyukur dan sabar. Dalam urusan agama (ilmu dan ibadah) dia melihat kepada yang lebih tinggi lalu meniru dan mencontohnya. Dalam urusan dunia dia melihat kepada yang lebih bawah, lalu bersyukur kepada Allah bahwa dia masih diberi kelebihan”. (HR. Tirmidzi) artinya bersabar adalah pergerakan menuju ridho Allah lewat usaha maksimal dalam urusan akherat dan berusaha menekan lonjakan nafsu duniawi lewat syukur.

dan inilah Ramadhan..

Nabi saw bersabda:
”…. وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَةُّ…”
“… Yaitu (bulan ramadhan) adalah bulan kesabaran, dan sabar ganjarannya adalah surga…”
Hadits diatas merupakan potongan dari khutbah Rasulullah yang disampaikan dihadapan para sahabat menjelang bulan Ramadhan tiba, hadits tersebut menegaskan bahwa ramadhan adalah bulan kesabaran, dan menuntut bagi para hamba Allah yang melalui bulan ini untuk mengisi dirinya dengan kesabaran.

Puasa merupakan bagian dari latihan kesabaran untuk orang-orang yang berpuasa; sabar menahan makan dan minum; sabar untuk menahan nafsu syahwat (hubungan suami istri di siang hari); sabar untuk menahan amarah dan angkara murka; sabar untuk menahan jiwa dan raga dari melakukan tindakan yang dapat mengurangi nilai-nilai dan pahala puasa; sebagaimana bersabar untuk bangun malam, untuk qiyam lail, untuk sahur dan lain-lainnya.

Bagitu banyak hadits nabi yang menyebutkan bahwa orang yang tidak bersabar menahan segala nafsu, marah dan angkara murka serta jiwa dan raga dari perbuatan yang dilarang Allah, maka Allah tidak membutuhkan darinya dari puasa menahan makan dan minum. Nabi saw bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزَّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ عَزَّ وَجَلَّ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak bisa meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap amalan dia meninggalkan makanan dan minumannya.” (Al-Bukhari)

Dalam hadits lain juga disebutkan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ:قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، إِلاَّ الصِّيَامُ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالصِّيَامُ جُنّةٌ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثُ يَوْمَئِذٍ وَلاَ يَسْخَبُ، فَإِنْ سَابّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ
Dari Abu Hurairah ra beliau berkata: Rasulullah saw pernah bersabda, “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Semua amal anak Adam adalah baginya kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu bagi-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.Puasa adalah perisai, apabila kamu sedang puasa janganlah berkata keji(memaki), janganlah berteriak-teriak dan janganlah berbuat perkara yang bodoh. Apabila ada seseorang yang mencacinya atau memeranginya maka katakanlah ‘Sesungguhnya aku sedang puasa… .” [Bukhari dan Muslim]

Dua hadits diatas menegaskan akan peringatan dan larangan bagi orang-orang yang berpuasa untuk melakukan tindakan yang dilarang dan dapat membuat berkurang nilai-nilai puasa, yang mana inti dari itu semua itu adalah dengan bersabar. Sabar menahan diri dari prilaku dan perbuatan yang dilarang Allah dan sabar menahan amarah jika ada orang iseng dan secara sengaja mengejek, mencaci, mencela dan lain sebagainya, sehingga membuat diri bergolak rasa amarahnya dan tidak mampu menahannya.
Karena itu sabar adalah inti dari puasa. Dan karena itu pula Rasulullah saw mengatakan dalam khutbahnya; “Bahwa Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan sabar ganjarannya adalah syurga”. seperti yang termaktub dalam pembuka tulisan ini.
Dan kesabaran adalah salah satu ciri mendasar orang yang bertaqwa. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa kesabaran setengah keimanan. Sabar memiliki kaitan erat dengan keimanan. Tidak ada keimanan yang tidak disertai kesabaran.

Di dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh imam Turmudzi, Rasulullah saw bersabda:
الصَّوْمُ نِصْفُ الصَّبْرِ
“Bahwasannya puasa adalah separuh dari kesabaran”.
Kemudian di hadits lain yang diriwayatkan oleh imam Abu Na’im beliau bersabda :
الصَّبْرُ نِصْفُ الإِيْمَانِ
“Bahwasannya sabar adalah separuh dari iman”
Kedua hadits tersebut menjelaskan kepada kita, betapa puasa, iman dan kesabaran merupakan satu kesatuan, ketiganya sangat terkait. Orang yang diwajibkan berpuasa oleh Allah SWT adalah orang yang beriman. Artinya, orang yang beriman serahusnyalah berpuasa.

Dari segi bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah. Menguatkan makna seperti ini adalah firman Allah dalam Al-Quran:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”. (Al-Kahfi: 28)

Perintah bersabar pada ayat di atas adalah untuk menahan diri dari keingingan keluar dari komunitas orang-orang yang menyeru Rabnya serta selalu mengharap keridhaan-Nya. Perintah sabar di atas sekaligus juga sebagai pencegahan dari keinginan manusia yang ingin bersama dengan orang-orang yang lalai dari mengingat Allah swt.

Sedangkan dari segi istilah: sabar adalah menahan diri dari sifat kegundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah. Sebagaimana sabar juga berarti keteguhan bersama Allah, menerima ujian dari-Nya dengan lapang dan tenang. atau juga berarti sikap refleksi akan keteguhan untuk merealisasikan Al-Quran dan sunnah.

Dari makna diatas jelas sekali bahwa sabar adalah perbuatan yang sangat terpuji dan memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan puasa. Karena makna puasa juga bermakna menahan diri dari makan, minum dan hawa nafsu sebagaimana sabar juga menahan diri dari sifat kegundahan, rasa emosi, menahan lisan dari keluh kesah dan menahan anggota tubuh dari perbuatan tidak terarah. Kesemua itu sangat dibutuhkan dalam puasa, sehingga, ketika ini dapat berjalan dan terlaksana maka akan sempurna puasa seseorang.

Dalam Al-Quran banyak ayat yang berbicara mengenai kesabaran. Jika ditelusuri, terdapat 103 kali disebut dalam Al-Quran, baik berbentuk isim maupun fiilnya. Hal ini menunjukkan betapa kesabaran menjadi perhatian Allah swt.

1. Sabar merupakan perintah Allah.
Seperti firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al-Baqarah: 153).
Dan firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung” (Ali Imran: 200)
وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ
“Bersabarlah (hai Muhammad) dan Tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan”. (An-Nahl: 127)
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (Al-Anfal: 46)
وَاتَّبِعْ مَا يُوحَى إِلَيْكَ وَاصْبِرْ حَتَّى يَحْكُمَ اللَّهُ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ
“Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah hakim yang sebaik-baiknya”. (Yunus: 109)
وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan bersabarlah, karena Sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan”. (Hud: 115)

2. Larangan isti’jal (tergesa-gesa).
Allah SWT berfirman:
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ
“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka”. (Al-Ahqaf: 35)

3. Pujian Allah bagi orang-orang yang sabar:
وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
“Dan orang-orang yang bersabar dalam kesulitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. (Al-Baqarah: 177)

4. Allah akan mencintai orang-orang yang sabar.
Allah berfirman:
وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar”. (Ali Imran: 146)

5. Kebersamaan Allah dengan orang-orang yang sabar.
Allah SWT berfirman:
وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Dan bersabarlah kamu, karena sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang sabar”. (Al-Anfal: 46)

6. Mendapatkan pahala surga dari Allah.
جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آَبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ . سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
“(yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka Alangkah baiknya tempat kesudahan itu”. (Ar-Rad: 23 – 24)

Dan, sebagaimana dalam Al-Quran, dalam hadits banyak sekali sabda Rasulullah yang menggambarkan kesabaran. Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi mencantumkan 29 hadits yang bertemakan sabar. Secara garis besar:

1. Kesabaran merupakan dhiya (cahaya yang amat terang). Karena dengan kesabaran inilah, seseorang akan mampu menyingkap kegelapan. Rasulullah mengungkapkan,
Nabi saw bersabda:
وَالصَّبْرُ ضِياءٌ
“Dan kesabaran merupakan cahaya yang terang”. (HR. Muslim)

2. Kesabaran merupakan sesuatu yang perlu diusahakan dan dilatih secara optimal.
Rasulullah bersabda:
“Barang siapa yang mensabar-sabarkan diri (berusaha untuk sabar), maka Allah akan menjadikannya seorang yang sabar”. (HR. Bukhari)

3. Kesabaran merupakan anugerah Allah yang paling baik.
Rasulullah bersabda:
وَمَا أُعْطِىَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
“Dan tidaklah seseorang itu diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.” (Muttafaqun Alaih)

4. Kesabaran merupakan salah satu sifat sekaligus ciri orang mukmin,
Nabi bersabda:
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَه
“Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, karena segala perkaranya adalah baik. Jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur karena (ia mengatahui) bahwa hal tersebut adalah memang baik baginya. Dan jika ia tertimpa musibah atau kesulitan, ia bersabar karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut adalah baik baginya”. (HR. Muslim)

5. Seseorang yang sabar akan mendapatkan pahala surga.
Dari Anas bin Malik ra berkata, bahwa aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya Allah berfirman, Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan kedua matanya, kemudian dia bersabar, maka aku gantikan surga baginya”. (HR. Bukhari)

6. Sabar merupakan sifat para nabi.
Ibnu Masud dalam sebuah riwayat pernah mengatakan: Dari Abdullan bin Masud berkata: “Seakan-akan aku memandang Rasulullah saw. menceritakan salah seorang nabi, yang dipukuli oleh kaumnya hingga berdarah, kemudian ia mengusap darah dari wajahnya seraya berkata, Ya Allah ampunilah dosa kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui”. (HR. Bukhari)

7. Kesabaran merupakan ciri orang yang kuat.
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah bersabda: ” Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika marah”. (Bukhari)

8. Kesabaran dapat menghapuskan dosa.
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا ، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullan saw. bersabda: “Tidaklah seorang muslim mendapatkan kelelahan, sakit, kecemasan, kesedihan, mara bahaya dan juga kesusahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan hal tersebut”. (HR. Bukhari & Muslim)

9. Kesabaran merupakan suatu keharusan, dimana seseorang tidak boleh putus asa hingga ia menginginkan kematian. Sekiranya memang sudah sangat terpaksa hendaklah ia berdoa kepada Allah, agar Allah memberikan hal yang terbaik baginya; apakah kehidupan atau kematian.

Dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah salah seorang diantara kalian mengangan-angankan datangnya kematian karena musibah yang menimpanya. Dan sekiranya ia memang harus mengharapkannya, hendaklah ia berdoa, Ya Allah, teruskanlah hidupku ini sekiranya hidup itu lebih baik untukku. Dan wafatkanlah aku, sekiranya itu lebih baik bagiku”. (Bukhari Muslim)

Puasa pada hakikatnya adalah menahan diri (imsak) yakni menahan diri untuk tidak makan, minum, besetubuh serta melakukan hal-hal yang menyebabkan batalnya puasa (shaumul awwam atau puasa biasa), serta menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang menyebabkan hilangnya nilai puasa (shaumul khawas atau puasa istimewa). Untuk mencapai tingkatan puasa istimewa, maka disamping perut dan kemaluan berpuasa, pendengaran berpuasa, penglihatan berpuasa, kaki berpuasa dan tangan berpuasa. Dengan kata lain, seluruh anggota tubuh berpuasa, yakni meninggalkan hal-hal yang kurang baik, lebih-lebih yang diharamkan oleh Allah SWT. Misalnya berdusta, membicarakan kejelekan orang lain, bersumpah palsu, berbicara kotor dan sebagainya. Disamping kedua tingkatan tersebut, ada tingkatan yang sangat istimewa, (ahaumul khawasil khawas) untuk mencapai tingkatan ini disampng melakukan hal-hal sebagaimana dilakukan kedua tingkatan sebelumnya, hati burani (al-qalb) juga harus ikut berpuasa dengan cara meninggalkan sifat-sifat yang kurang terpuji atau tercela misalnya sombong (takabbur), riya (riya), pamer (ujub), dengki (hasad) dan sebagainya. Puasa dengan peringkat istimewa lebih-lebih sangat istimewa ini relatif berat, untuk itulah dibutuhkan kesabaran.

Puasa Ramadhan merupakan media yang sangat efektif untuk melatih kesabaran. Betapa manusia beriman selama satu bulan penuh dilatih untuk sabar serta mampu menahan diri, tidak melakukan hal-hal yang sedianya dihalalkan baginya, misalnya makan, minum berkumpul dengan istri. Akan tetapi selam bulan Ramadhan hal-hal tersebut dilarang untuk dilakukan. Hal ini memberikan kesadaran spiritual dan transcendental kepada manusia untuk senantiasa tunduk dan patuh kpeada Khaliknya (Allah SWT). Betapa terhadap hal-hal yang yang saja kalau Allah melarangnya harus kita patuhi, apalagi terhadap hal-hal yang secara jelas dilarang-Nya.

Oleh karenanya dengan puasa Ramadhan ini kita tumbuh kembangkan, kita pupuk kesabaran agar kita mampu menghadapi hidup dan kehidupan ini yang cenderung semakin berat. Demikian pula bagaimana kita mampu melaksanakan perintah Allah SWT baik dalam suka maupun duka dimana saja kita berada, serta mampu menjauh maksiat atau larangan-Nya sehingga kita menjadi manusia paripurna (muttaqin).

Oleh karena itu sabar sangat dituntut dalam kehidupan setiap hamba, terutama umat Islam dalam segala aktivitasnya, karena dengan bersabar akan mengarahkan segala bentuk persoalan yang dihadapi menjadi mudah, segala beban yang dipikul menjadi ringan, terutama dalam ibadah ramadhan sangat dituntut untuk bersabar, bersabar dalam menahan lapar dan haus, bersabar menahan nafsu syahwat, bersabar untuk tidak marah, bersabar menjaga ucapan dan perbuatan yang dapat mengurangi bahkan menggugurkan pahala puasa.

Dan oleh Karena itu pula Rasulullah saw menamakan bulan ramadhan dengan bulan kesabaran dan memberikan janji bahwa balasan dan ganjaran kesabaran adalah surga.
-saduran-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar